Rumah kita mimbar Tuhan (pemaknaan Yoh. 4:21, 23-24)

hitabatak.com > Artikel > Rumah kita mimbar Tuhan (pemaknaan Yoh. 4:21, 23-24)
Pdt. Saut Sirait bersama presiden Jokowi (foto : ist)

Rumah kita mimbar Tuhan (pemaknaan Yoh. 4:21, 23-24)

Oleh : Pdt. Saut Hamonangan Sirait*

Bagian terbesar dari umat beragama mengambil sikap yang sangat pas, sembahyang (marsomba, tefilla) di rumah. Memang masih ada yang ngotot untuk melakukan di gedung gereja, karena pelbagai alasan.
Sangat mungkin jiwa keagamaan bermakna “mistis” yang mengikat (baca: memaksa) orang merasa “sah” bila sembahyang di gedung gereja (atau Mesjid, Vihara dll). Banyak yang memahami Tuhan hanya bersemayam di gedung sembahyang. Tanpa disadari Tuhan “dilokalkan”, tidak lagi universal, bahkan hakikat Tuhan yang melampaui semua hal direduksi sedemikian rupa.

Faktor kebiasaan yang menjadikan gedung sebagai habitat sembahyang, jelas sangat mempengaruhi. Tidak mudah bagi siapapun untuk lepas dari habitat yang sejak kecil dilakoninya.
Sesungguhnya gedung sembahyang (gereja, mesjid, Vihara, klenteng, dll), bukanlah tempat yang sanggup mengikat Tuhan apalagi “memenjarakanNYA” pada satu gedung atau tempat.

Suatu dialog yang sangat jelas menyangkut lokasi sembahyang dan hakikat nya dimunculkan Rasul Yohanes. Pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria menjadi “status konfesionis”, keberadaan yang tidak tertolak mengenai lokasi dan keberadaan sembahyang. Sangat terang benderang. Di bawah bayang-bayang semua orang Samaria yang membanggakan Gerizim (arti harafiah: terbagi dua), sebuah bukit kecil yang menjadi pusat sembahyang mereka, selama ratusan tahun, saat itu. Perkataan Yesus pada perempuan Samaria itu sesungguhnya merupakan pemberitahuan mengenai hancurnya pusat-pusat penyembahan yang disebut “bait suci atau bait Allah”. Pemaknaannya jelas, Tuhan tidak bisa didomestikasi, tidak dapat dilokalisir. Tuhan tidak mungkin ditundukkan dan dijinakkan pada lokasi manapun, apalagi dalam genggaman legitimasi “ritual” di tangan para imam dalam kultus masa itu. Penegasan Yesus jelas: Tuhan itu “omnipresentia”, tidak terbatas!

Ada 4 (empat) dalam Yohanes 4: 21, 23 dan 24 yang sangat ditekankan Yesus:

Baca Juga  Setelah Dinobatkan Bupati Terbaik versi IAM, Nikson Nababan dapat Penghargaan Indonesia Visionary Leader

1. Tidak ada lagi persoalan tempat atau lokasi yang khusus untuk menyembah Tuhan (Tefilla, Marsomba). “Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem””, (4:21) Berangkat dari pemahaman Perjanjian Lama (PL), lokalisasi sembahyang teramat di pentingkan. Istilah El Shadai, El Betel, El Rijon, merupakan langkah yang paling awal untuk “mengumpulkan dan melokalisir kuasa Allah” (Max Weber: Anceint Judaism, 1952). Pada tahapan lanjut, lokalisasi berkembang seperti di Bukti Sion atau Jerusalem. Yesus dengan tandas melepas “pengikatan” Tuhan dari lokasi2 tertentu dan menjadikan semua lokasi menjadi MIMBAR TUHAN!

2. Yesus menegaskan lagi: “Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (4:23). Lebih tandas lagi mengenai waktu, akan dan sudah tiba, futuris dan presentis. Allah menghendaki KINI dan NANTI penyembah (tefilla, marsomba) tidak lagi dalam bentuk ritus-ritus yang lazim dalam tradisi-tradisi Sinagoge dan Yahudi.

3. Dalam roh dan kebenaran, menjadi kriteria, syarat yang ditetapkan Yesus. Inilah doktrin, dogma Yesus bagi gereja yang sungguh-sungguh mengikut Dia. Tidak ada persyaratan mengenai lokasi atau tempat. Dalam roh dan kebenaran, menunjuk keberadaan tiap-tiap orang yang menyembah itu sendiri, di segala tempat dan waktu.

4. Roh dan kebenaran itu menjadi ciri karakter yang sepenuhnya, seluruhnya dan sepenuhnya dalam semua bentuk dan jenis sembahyang yang ditegaskan Yesus. “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (4:24).

Menyembah dalam roh dan kebenaran, BERUAKH dan UBE’ EMETH (Ibrani) PNEUMATI dan ALETHEIA (Yunani), memberi pengertian bahwa sembahyang (marsomba, tefilla) adalah untuk membuka dan memberi diri dikuasai roh. Kata inspirasi sering dihubungkan dengan roh, juga semangat (spirit). Namun perlu diketahui, hakikat roh adalah gerak, tidak pernah diam atau diam-diam dan mendiamkan. Roh selalu bergerak dalam dan melampaui waktu. Tanpa bentuk dan wujud di semua ruang dan tempat. Dengan demikian, menyembah dalam roh merupakan kesediaan dan kesiapan diri untuk digerakkan roh di dalam seluruh keadaan, tempat, ruang dan waktu. KEBENARAN, merupakan fakta atau kenyataan yang tidak bisa dibantah. Kebenaran berarti tidak keliru, selalu tepat, layak dan patut. Jadi, menyembah dalam roh dan kebenaran merupakan suatu proses ritual yang mengandung panggilan dan perintah Tuhan bagi umatNYA untuk digerakkan pada kehidupan yang tidak keliru, menuju yang tepat, layak, patut dan berguna.

Baca Juga  Aek Sipitu Dai, Apa Benar Memiliki Tujuh Rasa?

Sekali lagi mimbar Tuhan di segala tempat, di seluruh dunia, di sawah, di ladang, di danau dan sungai, di gunung dan lembah, di kantor dan lapangan. Dan tentu, RUMAH KITA adalah MIMBAR TUHAN yang terbaik. SELAMAT menyembah TUHAN DI RUMAH KITA.

Seraya berdoa bagi semua saudara kita sebangsa dan sedunia yang terkena virus Covid 19 dan memampukan semua untuk mengatasinya, kami, bersama Ketua STT HKBP Pematang Siantar menyampaikan salam dan doa. Penuh berkat Tuhan.

*Penulis merupakan Dosen STT HKBP Pematang Siantar