Paramak Nasobalumon, Partataring Nasoramittop, Parsangkalan Nasora Majaljal

hitabatak.com > Artikel > Paramak Nasobalumon, Partataring Nasoramittop, Parsangkalan Nasora Majaljal

Paramak Nasobalumon, Partataring Nasoramittop, Parsangkalan Nasora Majaljal

Paramak Nasobalumon, Partataring Nasoramittop, Parsangkalan Nasora Majaljal, Filosofi ini mengajarkan adab dalam bertamu. Budaya Batak mengajarkan agar orang Batak suka menerima tamu. Dalam budaya Batak kerap menyelesaikan masalah setelah perjamuan makan.

Ungkapan itu dirangkai, soada ihan manuk pe jadi. Dalam budaya Batak bahwa setiap melakukan acara, selalu dibarengi pertama dengan terlebih dahulu makan. Ungkapan tersebut sama dengan tak ada rotan, akar pun jadi. Sebenarnya keduanya punya arti berbeda, hanya orang Batak selalu menganut bahwa kehidupan ini harus terus berjalan. Cara pandang harus dinamis mensiasat setiap kejadian.

Konon, jaman dulu bahwa ikan digunakan dalam acara-acara Batak. Tetapi karena sifat dinamis budaya Batak. Jika ikan tak ada tersedia bisa diganti dengan menjadikan ayam lauk pautnya. Umumnya dalam acara-acara Batak ikan mas menjadi bagian tak terpisahkan saat jamuan makan. Dulu, konon, sebelum ikan mas masakan khas ikan ihan batak. Sekarang dipakai menjadi ikan mas. Sekarang ini, ikan mas umumnya disediakan oleh pihak hula-hula atau tulang dalam acara Batak.

Namun, pesan moral dari ungkapan ini bahwa kehidupan harus terus berjalan, karena itu harus tahu mensiasatinya. Hal ini mengambarkan karakter dan sikap yang harus dimiliki seorang pemimpin. Seorang orangtua. Seorang tokoh. Seorang panutan. Sebagai pemimpin memiliki tak yang lebar yang tak pernah digulung.

Partararing naroramittop, artinya dapur yang tempat menanak nasi tak pernah berhenti menyajikan, atau memasak makanan. Lalu, parsangkalan nasora majaljal artinya tak bosan-bosan menyajikan yang baik kepada tamu. Sikap seperti itu harus dimiliki seorang raja, sebagai pemimpin, memiliki sikap yang terbuka. Senang menerima tamu, intinya senang menerima tamu. Senang menolong, karena itulah sifat yang dimiliki sikap seorang raja.
Apa implikasinya dalam di kehidupan? Bahwa keramahan dan kemurahan hati dalam menerima dan menjamu tamu atau orang yang tak dikenal, harus selalu diperlihatkan. Sifat suka menerima tamu berarti kasih kepada orang lain. Rasa senang atau baik hati kepada orang-orang yang tidak dikenal.

Baca Juga  Warga Tapteng Yang Kontak Dengan PDP Covid-19 Asal Padangsidimpuan Agar Segera Melapor

Zaman Dahulu. Pada zaman patriarkat, kendati orang Mesir dan bangsa-bangsa lain memperlihatkan sifat ini, orang-orang keturunan Sem-lah yang paling menonjol dalam hal ini. Keramahan terhadap musafir dianggap sebagai bagian integral kehidupan sehari-hari. Perlakuan yang sangat baik diperlihatkan kepada orang yang datang berkunjung, tak soal dia seorang yang tak dikenal, sahabat, kerabat, atau tamu yang diundang.

Nun dalam etika umum, pengertian bertamu dan berkunjung ke rumah orang lain dalam rangka mempererat silahturrahim. Maksud orang lain disini bisa tetangga, saudara atu famili, teman sekantor, teman kerja. Tujuan utama bertamu untuk menyambung persaudaraan.

Apabila manusia memutuskan apa-apa yang kebiasaan bertamu niscaya dia akan bersikap egoisme yang muncul kepermukaan. Jadi jika bisa menjalankan filsafat Batak ini: Paramak naso habalunan, parsangkalan naso ramahiang, partataring naso ramintop, itulah mulia dan amat baik untuk kehidupan kita.

*Penulis : Hojot Marluga adalah seorang jurnalis, dulu menjadi redaktur pelaksana Reformata. Saat ini menggeluti dunia penulisan buku-buku memoar; otobiografi dan biografi.


hitabatak.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya serta event atau kegiatan yang perlu dipublikasikan. Tulisan hendaknya orisinal dan disertai dengan foto serta data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan). Panjang tulisan 600-1.500 karakter. Tulisan dapat dikirim ke redaksi [email protected] atau ke nomor 0822-7623-2237. Horas!