Mata Guru, Roha Sisean

hitabatak.com > Artikel > Mata Guru, Roha Sisean
Mata Guru Roha Sisean (foto : Facebook/Sijogabaut)

Mata Guru, Roha Sisean

Ini ungkapan filosofi Batak. Bila diterjemahan mata benar guru, hati pemandu atau murid. Penjelasan ungkapan ini sudah saya jelaskan di buku Ungkapan Filosofis Batak Jilid 1.

Buku yang ditulis oleh Hojot Marluga yang berjudul Ungkapan Filosofis Batak
Buku yang ditulis oleh Hojot Marluga yang berjudul Ungkapan Filosofis Batak

Tulisan ini terus terang saya buat lagi karena baru menonton video singkat seorang motivator, Ary Ginanjar Agustian. Sebagai seorang motivator Indonesia, penggagas 165 ini pun mendirikan Menara 165 di jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Tentu, menarik kembali jika dimaknai ulang, bukan sekedar mata lalat dan mata lebah.

Di video yang singkat yang dibagikan di media sosial dan group wa itu, Ary Ginanjar Agustian menceritakan mata lalat dan mata lebah. Diceritakan mata lalat walau di tempat bunga selalu mencari sampah, sedangkan mata lebah walau di tempat sampah selalu mencari bunga. Bicara soal sampah saya langsung teringat ungkapan sahabat saya Pdt. Dr. Douglas J Manurung Douglas Manurung yang kerap menyebut, sampah itu banyak gunanya, asal kita tahu menggunakannya. Artinya, soal cara pandang, melihatnya dari sudut apa.

Soal mata, manusia itu memiliki dua macam mata yaitu; mata jasmani dan mata rohani. Mata jasmani itu terbatas dalam melihat, hanya mampu melihat yang tampak kasat mata. Sedangkan mata rohani yang kerap disebut mata batin atau hati nurani, melihatnya transenden, melebihi ruang dan waktu. Saya kira disinilah ungkapan Batak itu menemukan kedalamannya, roha sisean, hati jadi pemandu. Jadi bukan berhenti di mata jasmani tetapi hinggap sampai di mata rohani.

Apa moralnya dalam kehidupan ? Mestinya jangan hanya gunakan mata jasmani yang terbatas. Gunakan juga mata rohani agar tetap berpengharapan, bahwa keberhasilan tak terjadi sekejap mata. Tidak langsung melejit, tetapi menjalani jenjang tangga, langkah demi langkah. Dari tangga pertama, tangga kedua dan tangga selanjutnya.

Baca Juga  Songon Sorha Ni Padati Do Ngoluon

Tentu ketekunan perlu, buktinya, jelas ketekunan sebagai semangat pantang menyerah dan tak mudah putus asa, dan itu juga bukti telah mengaktifkan mata batin. Ini perlu dalam menapaki-mengarungi dunia yang digeluti berpengharapan.

*Penulis : Hojot Marluga adalah seorang jurnalis, dulu menjadi redaktur pelaksana Reformata. Saat ini menggeluti dunia penulisan buku-buku memoar; otobiografi dan biografi.


hitabatak.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya serta event atau kegiatan yang perlu dipublikasikan. Tulisan hendaknya orisinal dan disertai dengan foto serta data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan). Panjang tulisan 600-1.500 karakter. Tulisan dapat dikirim ke redaksi [email protected] atau ke nomor 0822-7623-2237. Horas!