Menjelang malam pergantian tahun, biasanya masyarakat akan disibukkan dengan berbagai kegiatan, salah satunya masyarakat Batak yang memotong hewan ternak untuk dikomsumsi pada saat natal dan tahun baru.

Pada pagi pada hari terakhir tahun tersebut atau pada hari sebelumnya beberapa warga akan sibuk untuk memotong hewan ternak untuk kemudian disembeli dan dibagikan kepada kepada warga.

Kegiatan ini dinamakan dengan Marbinda, Marbinda lazimnya dilakukan oleh lebih dari satu orang yang tergabung dalam satu kelompok atau komunitas.

Marbinda menurut kamus bahasa Batak artinya menyembelih hewan yang dibeli bersama dan dipotong untuk dibagi bersama.

Masyarakat Batak sendiri telah melakukan Binda sebagai bentuk dari usaha gotong royong.

Untuk masyarakat Batak sendiri marbinda selain bertujuan untuk membangun rasa kekeluargaan dan kebersamaan dengan semangat gotong royong adala untuk meringankan beban para anggota komunitas/organisasi untuk mendapatkan daging untuk dikomsumsi pada hari Natal atau Tahun baru.

Mengingat pada saat Natal dan Tahun baru sudah diketahui bersama bahwa harga bahan pangan dan kebutuhan pokok dominan naik dan diburu oleh banyak orang, salah satunya hewan ternak.

Teknis dari Marbinda sendiri dilakukan dengan menggalang dana dalam satu komunitas. Kemudian Dana tersebut digunakan untuk membeli hewan yang akan disembeli. Setelah disembeli, daging  tersebut akan dibagikan secara merata. Sebagian disisakan untuk makan bersama.

Dana tersebut dikumpulkan pada bulan-bulan sebelumnya dengan dipatoknay perbulan untuk dibayar agar dapat membeli satu ekor ternak atau lebih sesuai dengan kebutuhan dan jumlah dari anggota komunitas.

Dewasa ini seiring berkembangnya zaman dengan segala perubannya Marbinda dilakukan juga sebagai bentuk kasih dan aksi sosial untuk membantu sesama.

Salah satu contohnya adalah aksi nyata membagikan puluhan paket daging mentah kepada jemaat yang tidak mampu yang dilakukan oleh Panitia Natal Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sei Agul, di Medan.

Baca Juga  Minggu, 5 Januari 2020 (Minggu Sesudah Tahun Baru)

Kegiatan baik ini merupakan kegiatan yang kesekian kalinya karena setiap tahun sudah dilakukan.

Pdt. Suwandi Sinambela merupakan pimpinan di HKBP Sei Agul, Medan mengatakan bahwa Marbidda merupakan kebiasaan masyarakat batak dalam perjamuan yang tidak lepas dari konsumsi daging. Karena itu tradisi marbinda membantu memenuhi keluarga dalam merayakan natal, seperti dikutip dari Gatra.com

Apa yang dilakukan oleh Pdt. Sinambela dengan jemaatnya serupa dengan yang dilakukan oleh para sahabat dan saudara Muslim ketika pada hari Idul Fitri berbagi daging Kurban kepada warga yang membedakan hanya momentnya saja.

Semoga tradisi Marbinda tetap dijaga agar semangat gotong royong, berbagi, kekeluargaan dan kebersamaan dapat terus terjaga.