Jugulhon ma Martangiang!

hitabatak.com > Artikel > Jugulhon ma Martangiang!
Bukit Doa-Taber Huta Ginjang (foto : riyanthisianturi)

Jugulhon ma Martangiang!

Getir! kira-kira ungkapan yang pas menggambarkan kondisi dunia dan Indonesia secara khusus dewasa ini akibat virus Corona. Pasca Presiden Jokowi mengumumkan dua warganya yang positif terinfeksi virus mematikan tersebut setelah kontak dengan orang jepang yang juga sudah lebih dahulu terinfeksi. Hingga hari ini seolah kita hanya menghitung korban berapa yang sudah positif hari ini, berapa yang odp maupun PDP hingga meninggal walaupun himbaun dan langkah dari pemerintah untuk memutus mata rantai dari penyebaran virus ini juga tidak ada hentinya.

Sebelumnya, corona termasuk dianggap sepele bahkan pernah diklaim kalau Indonesia kebal corona meskipun dengan bahasa guyon dan jadi bahan lawakan. Dibilang gak mempan Corona di Indonesia karena ada koor amalah, ada koor ina. Lalu perempuan bunting dibilang korban kolornalah. hingga sekarang guyonan itu masih sesekali tergiang didaerah tapanuli walaupun daerah sumatera utara sudah positif dijangkiti virus tersebut.

Tidak hanya itu, pejabat tinggipun tidak ketinggalan ikut berkomentar dengan guyonan, sebut saja Wakil Presiden Indonesia yang dulu menyebutkan susu kuda liar bisa tangkal virus corona, hal ini pun masuk kedalam pemberitaan media besar misalnya Tempo, Seword salah satu wadah bagi para penulis untuk memberikan opini menuding tempo dan media lainnya memanfaatkan guyonan wapres tersebut untuk mendatang pundi dengan metode click byte.

Kendati demikian, Tuhan melalui alam semesta kembali menunjukan kemahakuasaanya dan membuktikan bahwa manusia mahkluk yang terbatas, pun dalam proses penciptaan menurut beberapa agama manusia merupakan anak paling bungsu dalam proses penciptaan alam semesta, bahwa binatang yang tidak memiliki akal dan budi sekalipun merupakan kakak dari manusia.

Kini virus corona berhasil menciptakan ketakukan ditengah masyarakat bahkan membuat masyarakat yang sudah menuju kehidupan individulisme semakin menjadi-jadi. Pasca presiden mengatakan dua orang Indonesia positif Corona, masyarakat di ibu kota berlomba-lomba membeli kebutuhan pokok, memborong masker dan Bukan hanya aspek ekonomi, budaya, pendidikan yang tergerus oleh corna virus ini melainkan kehangatan sesama warga negara menjadi hilang tidak hanya itu sesama anggota keluarga pun ikut juga terkena, karena takut untuk berpelukan maupun berdekatan.

Baca Juga  Peduli Dampak Covid-19, Pemko Medan terima 128.870 bantuan paket sembako

Menimbulkan kecurigaan satu dengan yang lain, hal ini dibuktikan dengan salah satu video yang menujukkan rasa kemanusian yang hilang dalam sebuah video yang beredar di Media sosial ketika ada orang yang jatuh dari sepeda motor tidak mau menolong karena alasan kemanusian (baca : waspada bila-bila si korban terinfeksi corona) yang secara langsung sudah menghilangkan rasa kemanusiaanya, dan masih ada beberapa kasus lagi.

Memang Corona ini begitu menggentarkan, menurut pandangan saya Corona ini selain virus juga adalah Ekstremis dari ISIS, mengapa ? tanpa memandang latar belakang, jabatan, status dari birokrat tinggi, artis, pemuka agama hingga masyarakat biasa diserangnya. Pertama dalam sejarah peribadatan dalam suatu wilayah ditiadakan secara berhimpun dan bergeser ibadah di Rumah maupun secara online. Apakah ini menyalahi ? apalagi dulu banyak yang mengecam adanya Gereja streaming maupun online.

Namun secara singkat kehadiran Virus ini membawa pesan ketakutan. Yah! takut akan kematian. Alih-alih virus ini hanya bisa ditangkal dengan sistem imun tubuh yang kuat namun dengan pemberitaan yang ada malah justru menimbulkan kepanikan. Padahal ketika orang panik dan takut, justru saat itulah tingkat imunitas tubuhnya menurun, memudahkan virus apapun bisa menyerang tubuh seseorang. Sialnya lagi hoaks masih bertebaran dimana-dimana, tercatat sebanyak puluhan kabar menyiarkan mengenai virus corona yang isinya adalah hoaks yang justru hanya menambah kepanikan dan ditengah-tengah masyarakat. Panik dan takut jika virus ini sampai kedaerah dan membuat banyak kematian seperti di Italia misalkan.

Saya tidak dalam kerangka berdakwa maupun mengajari sidang pembaca sekalian namun Alkitab berbicara menyoal Kematian (baca : maut) sebagai upah dari dosa (Roma 5:12). Kematian berarti akhir dari kehidupan manusia, siapapun dia, termasuk nabi, ra-sul, imam. Mati merupakan kon-sekuensi dari kejatuhan manusia kedalam dosa.  Jadi, tidak ada hal yang mengherankan dari kematian. Mati karena usia tua, sakit, hukuman mati, kecelakaan didarat, laut, atau udara, hanyalah sebuah cara mati. Hal itu tidak berkaitan langsung dengan hidup benar se-seorang, apalagi karena hal ritual yang belum tentu benar.

Yuval penulis buku best seller Homo Deus mengatakan pada awal ke-20, lebih banyak kemungkinan manusia mati akibat McDonald ketimbang akibat kekeringan, Ebola atau serangan al-Qaeda, apa iya ? di Beverly Hills para penduduk kaya makan salad selada dan tahu kukus dengan biji gandum sementara di perkampungan kumuh dan minoritas miskin (ghetto), orang-orang miskin melahap kue Twinkie, camilan ala Cheetos, Hamburger dan Pizza.  pada 2014, lebih dari 2,1 Milliar orang kelebihan berat badan berbanding terbalik dengan penderita gizi buruk mencapai 850 juta orang. Namun betapa mengerikannya kematian akibat virus corona ini, tentu sidang pembaca sudah tahu sekalian.

Baca Juga  Pemkab Taput Peringati Hari Anak Nasional Tahun 2019

Lalu apa yang harus kita lakukan ditengah isolasi mandiri dan bertambahnya waktu rebahan ? Yah, tentu banyak sekali, namun secara singkat saya jawab adalah Berdoa! saya mengajurkan ini seolah saya yang paling berdoa, tidak! namun hal ini sesuai dengan himbau presiden juga (baca : pemerintah) untuk Beribadah didalam rumah dsb, bagaimanapun kita harus tunduk kepada pemerintah selama kebijakannya tidak menyimpang, terlebih pemerintah adalah wakil Allah di tengah-tengah bumi. Apalagi sebenarnya langkah yang diambil pemerintah saat ini menjalankan menyelamatkan rakyat sebagai hukum yang tertinggi (Salus Populi Suprema Lex Esto) mengingat suara Rakyat Suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei).

Jugulhon hamu ma Martangiang salah satu ayat dari Bible (Alkitab terjemahan basaha Batak) Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika yang artinya Tetaplah Berdoa! (1 Tesalonika 5:17) Tentu setiap dari kita ingat akan dari ayat ini bahkan mungkin sangat hapal mengingat ayat tersebut merupakan ayat terpendek di Alkitab, namun pertanyaannya kemudian adalah sudah sejauh mana kita melakukannya ?

Jugulhon Ma Martangiang, jika merujuk pada kamus Besar Bahasa Batak maka Jugul artinya bandel, tentu kata bandel berkonotasi negatif, namun Paulus mengingatkan agar kita jugul dalam artian tidak berhenti, jemu maupun bosan untuk terus berdoa.

Namun menarik, apa yang dikatakan Paulus untuk tetap berdoa sekaligus membingunkan. kenapa ? Dulu saya berfikir tetaplah berdoa berarti harus melulu menundukkan kepala dengan mata tertutup untuk sepanjang waktu. Ternyata tidak begitu melainkan kepada sikap akan kesadaran manusia kepada Allah untuk menyerahkan diri secara total kepada Allah setiap saat. Agar setiap waktu hidup kita juga dihidupi dalam kesadaran bahwa Allah beserta dengan kita dan Allah terlibat secara aktif dalam pikiran terlebih dalam manifestasinya, yakni perbuatan.

Baca Juga  Razia Masker di Delitua, 150 Warga Terjaring

Menarik apa yang dilakukan oleh Trump ditengah kondisi yang dilanda oleh negaranya melalui Postingan di akun Twitter pribadinya, Donald Trump mendeklarasikan 15 Maret 2020 sebagai Hari Doa Nasional di Amerika Serikat. Trump percaya Tuhan lah tempat perlindungan dan sumber kekuatan saat menghadapi masalah virus Covid-19 yang telah mewabah di dunia.

Seringkali langkah dan keputusan yang diambil provakif hingga menimbulkan polemik, namun menarik dan menyejukan postingan yang dibuat Trump tersebut, walaupun kemudian Amerika saat ini tengah mengalami peningkatan korban jumlah yang terinfeksi, ini berarti berdoa juga harus dibarengi dengan tindakan (baca : berjaga-jaga). Tentu kita mengetahui berita mengenai begitu cepatnya meningkatnya kasus corona disana tidak lain karena dari masyarakatnya sendiri yang masih banyak menyepelekan virus ini hingga tidak melakukan anjuran dari WHO dan tetap nokrong walaupun sudah diperingatkan akan social distancing bahkan dalam sebuah video dari BBC dimana ribuan masyarakat berhimpun dalam pesta musim panas.

Yesus juga mengingatkan agar kita berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa, agar kita beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi. Saat ini juga beberapa organisasi, persekutua, dan instansi sudah membuat gerakan-gerakan Doa bersama, tentu ini sangat baik dan harapannya memang juga dapat diteruskan oleh stakeholder maupun organisasi lainnya untuk dapat melakukannya, tentu di tempat yang berbeda namun dijam-jam yang sudah ditentukan.

Lalu pertanyaan kemudian, apakah dengan Berdoa musibah ini akan berakhir ? Selamat menantikan jawabanya dan merasakan kuasa dari Doa itu sendiri.

Terakhir saya sekedar mengingatkan kalau virus ini tidak akan bergerak jika manusia tidak bergerak dan virus ini akan bergerak jika manusia bergerak. Sesederhana itu, namun jika manusia tidak bergerak (baca : dirumah aja) mau makan apa ? nah itu dia persoalan kemudian dan seringkali banyak dikeluhkan, namun kiranya kita bijak dan berhikmat serta sabar dalam menghadapi situasi ini dengan tetap jugul martangiang. Immanuel!