Hikmat, Akal Budi dan Kasih dalam Melawan Covid-19

hitabatak.com > Artikel > Hikmat, Akal Budi dan Kasih dalam Melawan Covid-19
Dikson Rinngo bersama Mententeri Hukum dan HAM (foto : ist)

Hikmat, Akal Budi dan Kasih dalam Melawan Covid-19

Oleh: Dikson Ringo *)

Wabah Virus Corona (Covid-19) secara khusus di Indonesia menimbulkan hal yang menggelitik. Saat pemerintah melarang pertemuan publik, seperti rapat hingga peribadatan, ada saja tokoh publik dan tokoh agama yang tidak peduli epidemi Covid-19.

Anehnya, dipakai pula dalil agama. Tidak perlu takut virus tapi harus lebih takut pada Tuhan. Semestinya tokoh agama dan tempat peribadatan harus menjadi contoh dalam mengarahkan perilaku publik. Sebab etika dan moral publik sebagian bersumber dari agama dan kitab suci.

Tindakan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) mengikuti saran pemerintah dengan bekerja dari rumah (work from home) dan menjaga jarak publik (social distancing) perlu ditiru dan diikuti pimpina gereja-gereja di Indonesia. Agar tokoh agama dan jemaat/jamaah agama mapapun tidak menjadi penyebab dan memfalitasi penyebaran virus corona.

Sejauh ini masih ada pula perdebatan untuk meniadakan peribadatan termasuk ibadah minggu dan misa hingga perayaan Nyepi minimal 2 minggu ke depan. Setidaknya membatasi peribadatan dalam jumlah besar dengan menerapkan social distancing.

Semua kitab suci termasuk Alkitab, menulis kata “Hikmat, Akal Budi dan Kasih” secara berulang-ulang. Kata-kata tersebut merupakan kata-kata inti dalam keimanan beragama, ber-Tuhan, bahkan dalam agama manapun. Pimpinan agama harus memberi teladan kepada umatnya dan publik. Sebab tiga kata tersebut akan mampu mengurangi bahkan mengendalikan secara sifnifikan penyebaran Covid-19.

Pimpinan agama harus sadar, dan memiliki sikap berhikmat, berakal budi, dan kasih dalam membantu pemerintah dan masyarakat. Tiadakan peribadatan minimal dalam 2 minggu ke depan. 1 minggu pertama untuk masa inkubasi virus, minggu ke-2 untuk memastikan tindakan perawatan. Dua minggu itu akan mampu mengurangi perluasan (pandemi) dan penyabaran (epidemi) Covid-19. Bila terpaksa, lakukan peribadatan berjarak dengan social distancing antar jemaat.

Baca Juga  Istilah New Normal diganti jadi ‘Adaptasi Kebiasaan Baru’

Secara khusus bagi pimpinan gereja dan jemaat, penyebaran Covid-19 di Korea Selatan dan Singapura terjadi secara massif justru mulai dari peribadatan. Bila pimpinan umat tak sadar, pimpinan jemaat sedang mendatangkan neraka bagi jemaatnya dan masyarakat. Kelak, generasi muda tak akan mempercayai pimpinan gereja karena tak memiliki sikap berhikmat, berakal budi dan kasih.

*) Tokoh Muda Batak dan Aktivis Ekumenis