Dua Tokoh Orang Batak Ini Pernah Pimpin RI

hitabatak.com > Artikel > Dua Tokoh Orang Batak Ini Pernah Pimpin RI

Dua Tokoh Orang Batak Ini Pernah Pimpin RI

Orang Batak memang belum pernah menjadi presiden Indonesia, namun tahukah kalian bahwa halak hita pernah memimpin pemerintahan Indonesia di awal-awal berdirinya republik.

Hal tersebut bisa terjadi karena kepala pemerintahan saat itu dipegang oleh Perdana Menteri. Sementara Presiden, yang dijabat Soekarno, berperan sebagai kepala negara.

Adalah Amir Sjarifuddin Harahap, pria kelahiran Medan 27 April 1907, yang merupakan Perdana Menteri ke-2 Indonesia.

Dia memimpin pemerintahan Indonesia saat Era Perjuangan Kemerdekaan lewat dua kabinet yang dibentuknya. Pertama, Kabinet Amir Sjarifuddin (3 Juli 1947-11 November 1947). Kedua Kabinet Amir Sjarifuddin II (11 November 1947-29 Januari 1948).

Pada era Perdana Menteri pertama Sutan Sjahrir (1945-1957), Amir juga pernah menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Pertahanan. Belanda mengenal Amir sebagai orang yang tidak mengenal kata takut.

Pada 19 Desember 1948, Amir meninggal dunia akibat dieksekusi mati. Amir yang merupakan tokoh PKI (saat itu belum partai terlarang) dituduh terlibat dalam pemberontakan di Madiun 1948.

Walau seorang komunis, Amir adalah seorang Kristen yang taat. Bahkan, sejumlah sumber menyebut, saat ditembak mati oleh polisi militer, Amir meninggal dunia dengan memegang Injil.

Bagi gereja HKBP, Amir juga adalah sejarah. Sebab, pada 1931, Amir yang terlahir bukan Kristen, dibaptis di HKBP Kernolong, yang merupakan HKBP pertama di Jakarta.

Orang Batak lainnya yang pernah memimpin pemerintahan Indonesia adalah Burhanuddin Harahap.

Siapa dia?

Burhanuddin Harahap merupakan Perdana Menteri ke-9 Indonesia. Pria kelahiran Medan pada 1917 ini memerintah dalam Era Demokrasi Liberal, mulai 12 Agustus 1955 sampai 24 Maret 1956.

Burhanuddin merupakan perdana menteri yang sukses menggelar pemilu pertama di Indonesia. Sejarah mencatat, pesta demokrasi yang digelar pada 1955 itu berlangsung damai dan lancar, kendati diikuti oleh banyak sekali partai politik.

Baca Juga  Salurkan bantuan alat kesehatan ke Humbahas, Gubsu : Zona hijau ini harus kita pertahankan

Di usianya yang sudah menua pada 1980, Burhanuddin tetap tidak tahan melihat kesewenang-wenangan Presiden Soeharto terhadap lawan politiknya.

Akhirnya, tokoh partai Islam, Masyumi, ini pun melawan sang penguasa Orde Baru bersama 49 tokoh lain lewat Petisi 50, yakni dokumen yang berisi penggunaan filsafat negara Pancasila oleh Presiden Soeharto terhadap lawan-lawan politiknya. Dokumen ini membuat Soeharto naik pitam.

Burhanuddin meninggal dunia di RS Jantung Harapan Kita pada 14 Juni 1987 dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Sumber : batakgaul.com