Dari Bona Pasogit untuk Bona Pasogit

hitabatak.com > Artikel > Dari Bona Pasogit untuk Bona Pasogit
Hagai Nainggolan

Dari Bona Pasogit untuk Bona Pasogit

Bona Pasogit, dua kata yang tidak asing di telinga orang Batak khususnya Batak Toba. Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia maka disebut Kampung Halaman. Orang Batak terkenal sebagai perantau yang handal. Tidak perlu ditanyakan lagi, kita dapat menemukan orang Batak dimana saja. Mereka pasti ada di kota-kota besar, sudut-sudut kota, bahkan di pelosok sekalipun tidak jarang mereka pasti ada. Dari zaman dahulu, orang Batak tahan banting, apa saja pekerjaan pasti dikerjakan. Tidak ada kata gengsi, selagi pekerjaan tersebut masih di jalan yang benar.

Kita dapat melihat di negeri yang kita cintai ini. Orang Batak cukup berperan penting dalam kemajuan negeri ini. Dan ini memang fakta bahwa Suku Batak adalah satu suku termaju di Indonesia. Ini dapat dibuktikan bahwa orang Batak tidak jarang menjabat sebagai menteri, anggota dewan, pakar hukum, pengacara, militer, pengusaha dan lain sebagianya. Dan tidak lupa profesi penyanyi. Orang Batak terkenal dengan suara khasnya bernyanyi. Tentu ini semua menjadi sebuah kebanggaan bagi kita khususnya orang Batak.

Seiring dengan masuknya agama ke tanah Batak, hal ini membawa pengaruh terhadap  adat dan tradisi. Adat dan tradisi yang bertentangan dengan nilai agama tereliminasi. Sehingga dampaknya adalah jarang ditemukan atau bahkan tidak dijumpai lagi suatu adat dan tradisi yang hilang tersebut. Namun sampai saat ini, masyarakat Batak tetap konsisten menjaga tradisi dan kebudayaannya. Orang Batak terkenal dengan tradisi dan budayanya yang unik.

Budaya Patrilinel

Secara garis keturunan, masyarakat Batak menganut sistem patrilinel. Artinya adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur  atau garis keturunan berasal dari pihak ayah. Itu sebabnya marga yang diwarisi oleh anak adalah berasal dari marga ayah. Kendati demikian, bukan berarti masyarakat Batak membedakan kedudukan perempuan dalam status sosial masyarakat. Hal ini dapat terbukti, bahwa perempuan-perempuan Batak sudah banyak sebagai ‘wanita karir’ di berbagai dunia pekerjaan. Ada istilah dalam umpasa Batak yang berbunyi “Tinallik rondorung, sai botar gotana, dos do anak dohot boru”  yang artinya laki-laki dan perempuan sama kedudukannya.

Baca Juga  BATAK : Banyak Taktik

Falsafah Batak

Kembali pada topik awal pembahasan yakni bona pasogit. Jika seseorang hendak pergi merantau ke tempat jauh. Sebelum keberangkatanya, pasti keluarga akan terlebih dahulu memberikan nasehat, serta tidak lupa mendoakan keberangkatannya, agar nantinya di perjalanan selamat sampai tujuan. Ada banyak sekali falsafah yang berisi nasehat, diantaranya “Lului na sarupa tu Garejam”  artinya, ketika sudah sampai di perantauan hendaknya terlebih dahulu mencari gereja, terkhusus gereja yang sama dengan gereja yang di kampung halaman. Nasehat selanjutnya adalah “Lului na samargam” artinya adalah, mencari orang yang semarga. Hal ini bertujuan, kelak ada orang yang menjadi tempat mengadu dan bertukar pikiran.

Masyarakat Batak pada umumnya memiliki jiwa persaudaraan yang kuat, terutama jika masih semarga. Sekalipun tidak ada ikatan darah, namun dampak semarga ini bisa menimbulkan rasa persaudaraan yang tinggi layaknya saudara kandung sendiri. Nasehat selanjutnya adalah “marbarita ho molo dung sahat di parjalanganmi” artinya ketika sudah sampai di perantauan, lekas memberikan kabar ke kampung halaman, agar kerabat keluarga tidak bertanya-tanya bagaimana keadaanya di perantauan. Dan nasehat lainnya yang tidak jarang adalah “Malo mardongan”. Arti dari nasehat ini adalah pandai pandai dalam bergaul, jangan sampai terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh pergaulan yang tidak benar.

Ketika di perantauan, suatu saat pasti akan merindukan suasana kampung halaman.  Kerinduan itu akhirnya membuat rasa ingin pulang ke kampung halaman. Dan hal ini tentu menjadi motivasi agar lebih giat lagi bekerja, akan mengumpulkan uang yang cukup untuk pulang ke kampung halaman. Yang dirindukan biasanya di rantau adalah sosial masyarakat, loppa ni dainang (masakan sang ibu), masakan khas Batak lainnya. Dan paling dirindukan diantaranya adalah masakan ibu. Entah apa yang membuat ini berbeda dengan masakan lainnya. Makanya lagu Batak tidak jarang bercerita tentang ke hidupan di rantau.

Baca Juga  Sahabat Bagi Semua Orang Melalui Natal Keluarga Batak di Merauke

Bagi orang Batak pada umumnya, adalah menjadi kebanggaan ikut membangun kampung halamannya. Ikut serta berperan membangun kampung halaman demi kemajuan. Pada umumnya, orang Batak yang sudah sukses di perantauan, mereka tidak akan lupa dengan kampung halamannya.  Ia akan selalu ingat bagaimana dulu ia diperjuangkan orang tuanya. Terdapat istilah Batak “napinagodang-godang ni gadong” yang artinya ia dibesarkan dengan penuh kesederhanaan. Mungkin generasi milenial sekarang, sudah sangat jarang mendengar istilah ini.

Kerinduan membangun Bona Pasogit adalah kerinduan bersama bagi kita semua. Jangan sampai melupakan jati diri kita yang sebenarnya. Orang Batak terkenal dengan watak kerasnya, tidak suka berbelit-belit dan tidak suka berkompromi. Jika memang baik, akan dikatakan baik. Dan jika memang buruk, akan dikatakan buruk. Membangun Bona Pasogit tidak harus serta merta langsung dimulai dengan melakukan hal-hal yang besar. Membangun dapat dimulai dengan hal-hal yang sederhana. Salah satu yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kualitas pendidikan bagi mereka yang tidak mampu. Bona Pasogit punya banyak potensi yang dapat dikembangkan, terlebih dengan panorama wisata alamnya. Sehingga akan membawa dampak meningkatkan perekonomian di Bona Pasogit.

Jika kamu sekarang adalah seorang perantau, berasal dari Bona Pasogit dan sedang membaca tulisan ini, maka mulai tumbuhkan rasa cinta pada Bona Pasogit dengan memegang perkataan ini “Dari Bona Pasogit, Untuk Bona Pasogit”.  Tetap berikan hati untuk Bona Pasogit kita yang tercinta.

Jala tapadao sian bagas ni rohatta hosom, teal, elat, late. Asa lam tu majuna hita halak Batak. Horas bangso Batak didia pe maringanan.

Penulis : Hagai Nainggolan adalah Putra Humbang Hasundutan saat ini melanjutkan studi di Universitas Bengkulu.


hitabatak.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya serta event atau kegiatan yang perlu dipublikasikan. Tulisan hendaknya orisinal dan disertai dengan foto serta data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan). Panjang tulisan 600-1.500 karakter. Tulisan dapat dikirim ke redaksi [email protected] atau ke nomor 0822-7623-2237. Horas!