Indonesia memiliki sejarah hubungan peradaban lintas benua yang sangat panjang. Hubungan antar peradaban tersebut berhasil memperkaya ragam kebudayaan yang dimiliki Indonesia saat ini. Semua keberagaman tersebut dapat hidup damai berdampingan dalam wadah kebangsaan Indonesia yang terikat dalam motto Bhinneka Tunggal Ika.
Hal-hal apa saja yang dikategorikan sebagai sebagai saksi bisu bukti panjang sejarah hubungan peradaban lintas benua tersebut?
Mari disimak sejumlah penjelasan berikut.
1. Pendeta Ludwig Ingwer Nommensen

Sosok Pendeta Nommensen memiliki faktor kedekatan emosional dengan orang Batak pada umumnya hingga dijuluki sebagai “Apostel Batak”. Pendeta Nommensen lahir di kota Nordstrand, Jerman pada 6 Februari 1834 dan meninggal di Sigumpar, Toba Samosir pada 23 Mei 1918 dengan umur 84 tahun. Pendeta Nommensen adalah seorang penyebar agam Kristen Protestan di Sumatera Utara dan hasil misionarisnya adalah berdirinya gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Menghabiskan masa hidupnya untuk menjalankan misi di tanah Batak, Sumatera Utara, Pendeta Nommensen menimbulkan kesan tersendiri bagi masyarakat Batak dan menciptakan hubungan khusus secara tidak langsung antara uat masyarakat Batak di Jerman memiliki kedekatan emosional dengan warga Nordstrand.

2. Komunitas Batak di Jerman

Cukup banyak etnik Batak yang berdomisili di Jerman dalam rangka bekerja, kuliah ataupun menikah dengan warga negara Jerman, dan lain sebagainya. Serupa dengan kebiasaan di kampung halaman, masyarakat Batak di Jerman juga membentuk persatuan yang dikenal dengan nama Masyarakat Nauli Indonesia (MNI).
Hal ini terlihat jelas pada Acara Malam Kesenian Batak yang diadakan oleh Masyarakat Nauli Indonesia (MNI) di Hamburg, negara bagian di wilayah Jerman Utara bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg. Kegiatan malam seni tersebut juga bertepatan dengan hari jadi ke-900 tahun Gereja St. Vinzenz Kirche Odenbüll, Nordstrand, Negara Bagian Schleswig-Holstein, dimana prasasti kelahiran Nommensen berada.

Baca Juga  HUT RI Ke-75, 119.175 Narapidana Dapat Remisi

3. Batakhaus

Berada di Werpeloh, jantung kota Hümmling, negara bagian Niedersachsen wilayah lower Saxony Jerman, Batakhaus atau yang oleh masyarakat Sumatera Utara lebih dikenal dengan nama Rumah Bolon, berdiri kokoh sejak tahun 1978.
Pendirian Batakhaus diinisiasi oleh Pastor Matthäus Bergmann dari Altharen / Emsland bertindak sebagai pastor di paroki St. Francis. Pembangunan Batakhaus dilaksanakan oleh para pengrajin, petani, pemuda Werpeloh ikut serta dalam pembangunan dan perancangan rumah tradisional Sumatera Utara tersebut yang disulut oleh antusiasme, optimisme dan daya kreatif pendeta mereka.
Dikarenakan faktor kesehatan, Pastor Bergmann tidak dapat bertindak sebagai misionaris di Indonesia, namun dirinya memiliki impian tentang misionaris modern. Sehingga Pastor Matthäus Bergmann bekerja sama dengan saudaranya, Pastor John yang bekerja di Sumatera untuk merancang pembangunan Batakhaus. Peresmian Batakhaus pada tahun 1978 diselenggarakan dengan partisipasi seluruh masyarakat dan banyak tamu kehormatan dari Emsland dan Keuskupan Sibolga di Sumatera.
Sama seperti Rumah Bolon di Indonesia, Batakhaus juga memiliki bentuk persegi empat dengan format rumah panggung yang ditopang oleh tiang-tiang penyangga dan adanya tangga yang berfungsi sebagai akses masuk ke dalam rumah. Material yang digunakan untuk membangun Batakhaus berasal dari bahan setempat, seperti batu Hümmlinger, dinding dari kayu ek, dan ilalang untuk atap rumah yang berbentuk pelana kuda. Ornamen rumah pun dibuat merujuk pada ornamen yang sering digunakan etnik Batak.

Saat ini Rumah Batak menjadi ikon wisata dan menjadi kebanggaan kota Werpeloh. Rencana peringatan didirikannya Rumah Batak ke 40 pada tahun 2018 nantinya diharapkan akan dapat memperkenalkan budaya Batak lebih luas lagi tidak saja wilayah Werperloh, namun juga di Niedersachsen serta membantu melestarikan budaya Batak di Jerman Utara dan mempererat hubungan historis antara masyarakat Sumatera Utara degan dengan masyarakat Jerman.
Hal tersebut membuat kita patut bangga mengetahui budaya Inonesia go internasional dan menjadi daya tarik wisata di negara asing. Namun jangan sampai hal ini jangan menjadikan kita lengah! Sebagai anak bangsa, sudah sepatutnya kita menjaga “permata” milik Indonesia.

Baca Juga  Belajar secara Daring, Siswi di Taput ini Martonun Ulos untuk Membeli HP

Komunitas Batak yang berdomisili di Jerman. Sumber: http://www.horas.web.id

By Hitabatak

Berbagi informasi menarik tentang Batak.