Birgaldo Sinaga : Si Batak Kristen Mau Nyapres

hitabatak.com > Berita > Birgaldo Sinaga : Si Batak Kristen Mau Nyapres

Birgaldo Sinaga : Si Batak Kristen Mau Nyapres

Ada hampir 4000an lebih emoticon di postingan Birgaldo Capres 2024. Terdiri dari 3000 memberi emot like, sisanya 1000 emot ketawa ngakak.Di akun Instagram @birgaldo_sinaga, ada sekitar 1500 emot dukungan diberikan.Ada ratusan komentar di sana.Putra Siregar pengusaha muda pemilik PS Store memberi komen “Keren Abanghanda ❤“.

Sedangkan dokter Otto Rajasa atau dokter Pot memberi komen dengan lima emot 😂. “Bro kau bercanda doang kan? Gak serius kan. Batak Kristen mana mungkin bisa jadi presiden?”.

Saya tersenyum kecut membaca pesan teman saya itu. Saya mau jawab apa?Menjadi warga double minoritas seperti saya ini memang harus tahu diri. Kenal diri. Agar tahu siapa diri ini.Berani2nya bermimpi menjadi presiden lha wong kemarin di Cikarang saudara2 Batak saya mau beribadah keluarga di rumah saja sudah dipersekusi? Mau berdoa di rumahnya saja sudah diusir.Berdoa sama Tuhan saja sudah diusir, kok berani2nya nyapres?

Saya teringat dengan wejangan ayah saya. Ayah saya seorang bhayangkara negara.

“Anakku..kamu sebagai putra Batak harus bangga. Kamu tahu jenderal termuda sepanjang sejarah republik ini adalah Letjen TB Simatupang. Pahlawan Nasional. Ia adalah Kepala Staf Angkatan Perang TNI pada zaman perang kemerdekaan. Kamu bisa menjadi apa saja di negeri ini. Leluhurmu ikut berjuang memerdekakan bangsa Indonesia”.

Kata2 ayahku ini terpatri begitu dalam di jiwaku. Sejak kanak2 kata2 itu membekas begitu kuat di dadaku.

“Sebagai putra Batak jangan pernah minder atau rendah diri kau. Kau ingat Sumpah Pemuda 1928? Ada pemuda Batak berikrar di sana. Ada Jong Bataks Bond bersumpah di sana bersama dengan para pemuda2 dari suku lain tanah air Indonesia. Kau tahu itu ada juga putra Batak pernah jadi perdana menteri. Amir Syarifudin Harahap,” ujar ayahku.

Baca Juga  Relawan Jokowi Centre Dukung Pemerintah Usut Penusukan ulama Syekh Ali Jaber

Pesan ayahku itu begitu dalam tertanam. Membentuk karakterku sampai bisa seperti sekarang ini. Teguh dan kokoh pada nilai perjuangan para leluhur saya.Membaca komentar2 teman2 di sini tentu kata2 mereka bukanlah kata kosong. Apa yang diekspresikan teman2 di sini adalah pantulan dari kenyataan yang ada.

Realitasnya adalah double minoritas jangan pernah berani mimpi jadi presiden. Lha wong jadi Panglima TNI atau Kapolri saja tidak mungkin. Mosok mau jadi presiden?

Wait the minute. Tunggu dulu kawan.”Opungmu itu Jenderal Maraden Panggabean. Kau bisa seperti dia”, bisik ayahku.

Jenderal M Panggabean dari silsilah garis keturunan nenek masih kerabat keluarga. Nenek saya boru Panggabean.Jenderal Maraden Panggabean pernah menjadi Panglima ABRI.

“Tapi itukan dulu. Zaman belum ada negara api menyerang. Sekarang beda. Itu cuma dongeng pengantar tidur”, ejek teman saya.

Saya terdiam. Termenung lama mendengar kata2nya yang nyelekit ini. Saya memikirkan kata2nya. Benar juga dia. Itu dulu. Sekarang Indonesia berbeda. Saya buka album kenangan keluarga. Ada foto ayahku berseragam polisi. Kupandangi foto ayahku. Lalu kukatakan padanya.

“Bapakku tersayang…maafkan anakmu ini Pak. Maafkan anakmu ini tidak bisa mewujudkan cerita kehebatan leluhur kita itu Pak. Tidak bisa seperti TB Simatupang. Tidak bisa seperti Opung Panggabean. Bahkan untuk bermimpi menjadi Presiden saja sekarang sudah ditertawakan”.

Ahhh..andai ayahku masih hidup, saya yakin orang yang menertawakan itu akan dihardiknya. Sekeras2nya. Dengan suaranya yang menggelegar.

“Negeri ini dibangun dengan cucuran darah dan air mata yang sama dari semua suku bangsa Indonesia. Siapapun berhak memberi yang terbaik pada Indonesia. Menjadi Presiden sekalipun. Tidak peduli sukunya apa. Agamanya apa. Golongannya apa. Mengerti kalian!!”.

Seketika saya menekuk wajah saya ke atas. Membusungkan dada. Menegakkan kepala saya.

Baca Juga  Gubsu lantik Pejabat Eselon II dan Eselon III

“Saya, Birgaldo Sinaga, putra Batak, siap menjadi Capres 2024”.

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis : Birgaldo Sinaga