Apa Hebatnya Kekerabatan Batak ?

hitabatak.com > Artikel > Apa Hebatnya Kekerabatan Batak ?

Apa Hebatnya Kekerabatan Batak ?

Apa Hebatnya Kekerabatan Batak ? Pertanyaan itu pernah dilontarkan seorang teman, jelas bukan etnis Batak. Jawaban saya rumit tak mudah menjelaskan. Ada ungkapan Batak menyebut, “Jolo tiniptip sanggar asa binahen hururhuruan. Jolo nisungkun marga asa binoto partuturan.” Orang Batak bisa langsung kompak, dekat karena kekerabatan dalam marga. Soal sejarah marga belum ada yang valid diteliti sejak kapan marga mulai ada dan dipakai orang Batak. Tentu beragam pendapat soal itu. Umumnya marga dipakai dari nenek moyang. Marga bisa berubah jika ada “manompas bombong” menikah dalam satu marga. Misalnya kami marga Marbun awalnya hanya satu marga, tetapi sejak ada manompas bombong jadi berubah. Marga Marbun sendiri kakak beradik tiga, Lumban Batu, Banjar Nahor dan Lumban Gaol. Kemudian menjadi marga. Tetapi sampai sekarang menggunakan marga Marbun masih banyak. Tak salah, karena memang awalnya satu. Hanya saja tak elok lagi sudah menikah dengan sesama marga Marbun masih menggunakan marga Marbun.

Di Toba sendiri sekarang ada 400-an marga. Bila melihat penjelasan tadi marga Batak di kemudian hari akan bertambah. Niscaya. Di Mandailing misalnya, semarga bisa kawin mawin asalah minimal 13 generasinya tak ada lagi hubungan.

Mempelajari marga memang penting walau ruwet. Sebab marga yang satu ke marga yang lain saling terkait. Artinya, tak ada satu marga yang tak berhubungan dengan marga lain. Dari marga diketahui kekerabatan. Misalnya, saya marga Lumban Gaol. Lumban Gaol satu group, awalnya kakak beradik, Lumban Batu, Banjar Nahor kemudian Lumban Gaol sebagaimana saya terangkan di atas. Ketiganya disebut sabutuha, karena satu asal, satu orangtua. Lalu ada lagi serumpun, berkerabat satu keturunan. Awalnya di antara satu rumpun tak bisa saling menikah, namun seiring waktu sudah berubah dan saling kawin mawin. Marbun misalnya, keturuan Naipospos, bersaudara dengan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Satu bapak lain ibu. Dalam perjalanannya keturunan Naipospos menjadi tujuh marga. Lumban Batu, Banjar Nahor, Lumban Gaol, Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Kalau ditarik garis ke atasnya puncaknya sampai ke si Raja Batak akan sampai.

Baca Juga  Rp.70 M disiapkan untuk Pengembangan Bandara Sibisa

Sehari hari fungsi marga terasa saat acara adat. Saya sendiri sebagai marga Lumban Gaol tak lepas dengan marga marga dari yang lain tadi. Contoh marga saya Lumban Gaol sudah tentu karena marga ayah saya. Tapi marga ibu saya berbeda, boru Siburian dan marga ibu saya dari ibunya pun berbeda, boru Sigalinging. Saya juga tak boleh melupakan marga Ibu dari Ayah saya, boru Sitorus Pane, pasti selalu ada hubungan khususnya urusan adat.

Karena saya menikah, boru Siburian maka kembali saya punya hubungan lebih erat dengan Siburian, kebetulan marpariban. Marga dari ayah istri saya tentu Siburian, tetapi ibu dari ayah mertua, ayah dari istri berbeda, boru Sigalinging. Marga ibu mertua saya juga berbeda, Tinambunan. Dan, ibu dari mertua perempuan saya juga marga berbeda, boru Simanungkalit.

Maka, paling tidak diri saya mesti punya hubungan khusus dengan 7 marga tersebut. Saya sebagai marga Lumban Gaol, berhubungan tutur kekerabatan dengan marga marga itu. Pertama, marga ibu dan istri Siburian. Marga ibu ayah Saya Sitorus Pane. Marga mertua perempuan Tinambunan. Marga ibu, orangtua mertua lakilaki Sigalingging dan orangtua mertua perempuan Simanungkalit. Tentu itu masih hubungan saya langsung. Adik adik saya kekerabatannya jelas ada beda dengan saya karena menikah dengan boru marga lain. Ruwet, tetapi disitulah seninya dan kuat ikatannya. Dan itulah kehebatannya. Jika tak peduli tak merasakan kekuatan ikatan kekerabatan.

*Penulis : Hojot Marluga adalah seorang jurnalis, dulu menjadi redaktur pelaksana Reformata. Saat ini menggeluti dunia penulisan buku-buku memoar; otobiografi dan biografi.


hitabatak.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya serta event atau kegiatan yang perlu dipublikasikan. Tulisan hendaknya orisinal dan disertai dengan foto serta data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan). Panjang tulisan 600-1.500 karakter. Tulisan dapat dikirim ke redaksi [email protected] atau ke nomor 0822-7623-2237. Horas!

 

Baca Juga  Mengenal Asal Usul Raja Batak